Mutiara Dalam Syukur
Mutiara Dalam Syukur
Manusia adalah hamba
yang tak mengenal lelah. Hamba yang tak henti juangnya mendaki puncak gunung
mimpi bertanggalnya. Mimpi yang membuat asanya menembus jauh melampaui batas –
batas dimensi ruang dan waktu. Menerka nyata kisah di masa depan, yang mereka gambar
dalam lukisan indah cita perspektif jangka panjang. Tak jauh pula dengan
Syahdan, anak sebatang kara yang jauh di alam sejarah hidupnya ia berjihad
menegakkan agama Allah dalam keyakinan hatinya. Tak peduli meski ia harus
dibuang oleh keluarga besarnya, karena kini dalam hatinya telah terbuka lubang
cahaya cintaNya untuk menjadi petunjuk hidupnya. Tak sedikitpun ia ragu. Tak
jua takut. Bahkan tak ada tangis penyesalan yang membasahi kedua mata
bermaniknya. Dalam ruhnya kini tersimpan kekuatan kasihNya. Dalam darahnya
mengalir air surga yang menyegarkan dahaga insannya. Bersimbah keringat dan
tangis bukan hal baru lagi baginya. Nafasnya tak lepas dari udara – udara penuh
semangat untuknya meraih cita – citanya. Seperti yang sekarang tengah ia
kerjakan. Mengangkat satu persatu batu besar untuk dipindahkan ke bak truk
besar. Jika orang menyumpal senyum mereka, namun Syahdan sebaliknya. Senyum
indahnya merekah menyirai sukma – sukma yang lelah, memberi ruh baru pada jiwa
yang sempat lengang, untuk terus berjuang walau raga serasa dibalik – balikan,
untuk cita atas namaNya.
“Syah, kamu dipanggil
bos! Katanya ada hal yang ingin dia bicarakan. Cepat kesana!”
“Oh iya bang, saya
kesana. Terimakasih atas informasinya.”
“Yayaya. Cepat sana!”
Ada
hal apa sehingga bos memanggilku? Mungkinkah ada salah dalam kerjaku selama
ini?
Bermunculan pertanyaan
dalam pikir dan benaknya. Syahdan telah bekerja selama satu tahun di tempat
kini ia bekerja. Menjadi seorang buruh pengangkat batu besar yang ada di
sekitar sungai untuk kemudian dipindahkan ke truk. Pekerjaan itu ia lakoni
sejak ia tak tinggal lagi di rumah dengan kedua orang tuanya, karena pilihannya
untuk menjadi seorang muallaf, menjadi muslim. Sempat ia hilang arah, tak tahu
harus kemana, dan dengan siapa, karena semua keluarganya beragama Katolik, dan
kini hanya ia atau tepatnya barulah ia yang dapat menjemput hidayahNya. Berhari
– hari, berminggu – minggu, bahkan nyatanya sempat pula berbulan – bulan ia
menjadi warga urban harian. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Menyisir
hiruk pikuk kota yang tak bersahabat. Sampai akhirnya ia mendapat pekerjaan
yang sekarang ia jalani, yakni sebagai buruh pengangkat batu besar. Ia yakin
tak akan ditemui jalan layang menuju puncak gunung kesuksesan.
Setibanya ia di depan
ruang kerja bosnya itu, Syahdan langsung mengetuk pintu untuk ijin memasuki
ruangan.
“Permisi pak…”
“Oh, kamu. Ya silahkan masuk. Silahkan duduk.”
“Oh ya pak
terimakasih.”
“Hmm… mungkin kita
langsung saja karena saya yakin pasti kamu sudah bertanya – tanya kenapa kamu
saya panggil.”
“Iya pak, silahkan.”
“Perusahaan kita
sekarang sedang banyak mengalami permasalahan keuangan, yang tentunya ini juga
berdampak pada kalian sebagai pegawai. Saya akui pekerjaan kamu selama ini
memang bagus. Kamu rajin dan bertanggungjawab atas pekerjaan kamu, tapi… dengan
berat hati saya tidak bisa mempekerjakan kamu lagi. Hal ini saya lakukan untuk
menekan pengeluaran keuangan perusahaan, karena pemasukan kita sekarang sedang
bermasalah. Jadi mulai besok kamu tidak perlu datang lagi ke lokasi. Saya mohon
maaf.”
“Oh… ya pak tidak apa –
apa…”
“Hmm. Sekarang kamu
boleh keluar.”
Sesaat tubuhnya
lunglai. Aliran darahnya sempat membeku. Nafasnya tertahan oleh perasaan dalam
hatinya. Namun kemudian, ia sadar. Berulang kali ia menyebut kalimat – kalimat
cintaNya. Tak banyak memang yang ia ingat, tapi setidaknya ia kembali merasakan
ketenangan jauh dalam hatinya.
Hari
ini adalah hari yang membawanya kembali menjadi insan yang kuat dalam melewati
setiap kasih dariNya. Apa yang dia alami siang tadi ia yakini bahwa itu semua
adalah pesan – pesan kesuksesan dariNya. Lalu kini, ia bersimpuh dalam
keheningan malam yang panjang.
Hari ini ada warna punya rasa dan punya
nada, pada segumpal kehidupan manusia yang tersisa, badan ini kini telah menjadi
pelabuhan nasib, dalam menempuh usia melayarkan cita – cita, lukisan hati,
lukisan diri, lukisan insani, terpampang pada warna merah jingga, lalu ada
kedamaian yang terpateri, “pasrah dalam do’a”, kupanjatkan atas rahmatNya serta
kasihNya, bersama keyakinan Dialah yang akan menolong, dan, pabila malam sepi
kembali, dalam alunan lagu akhir simfoni dzikir, aku masih harus berharap dan
berfikir, semoga tak lagi mereguk cawan derita, dan angin pun datang menyapu
langit kelam menjadi biru, bagai lingkaran lukisan yang menyatu, mengalirkan
kesejukan dalam melangkahkan, perjalanan, dengan getaran di batinku,
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Terlelap
Syahdan dalam mesra bincangnya dengan Sang Khalik, dan hari esok telah rindu
menantinya untuk ia jamah kembali.
Pagi
yang baru bagi Syahdan. Syahdan berbenah diri untuk berjuang kembali meraih
cita atas namaNya. Kini ia tak lagi terpikir untuk mencari pekerjaan, tapi ia
ingin menciptakan pekerjaan untuknya dan untuk membantu orang lain. Dari uang
tabungan yang ia miliki, ia berdayakan menjadi modal usaha yang ingin ia
bangun. Usaha nasi uduk, itulah yang sekarang menjadi fokusnya. Keahliannya
dalam memasak ia gunakan untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Tak lagi ia
ingin hidup bergantung pada orang lain, kecuali hanya pada Allah SWT semata.
Di
ruang sempit tempat ia rehat, yang juga sebenarnya itu adalah ruang
serbagunanya sekarang, karena memiliki fungsi lain yakni sebagai ruang memasak
atau dapur , ia mulai meracik bumbu dan memasak nasi uduk untuk kemudian ia
jual pada pembeli. Memang dia pun aneh akan seperti apa rasanya nasi uduk
buatan seorang laki – laki, tapi ia yakin Allah akan membantunya. Setelah
selesai ia memasak, Syahdan langsung bersiap – siap untuk berkeliling
menawarkan, menjual nasi uduk karyanya itu. Sebelum ia berangkat melakoni
profesi barunya, terlebih dahulu ia meminta ijin pada Yang Maha Kuasa.
Ya
Allah,,,
Ridhoilah
langkah hambaMu ini untuk berjuang di jalan cintaMu…
aminnn….
“Nasi
uduk!!!... Nasi uduk!!!... Nasi uduk!!!...”
“Eh dek! Sini saya mau
beli!”
“Oh iya bu,,, saya ke
sana…”
Alhamdulillah
ya Allah… akhirnya ada yang mau membeli
juga….syukurnya dalam hati.
“Berapa harganya?”
“Tiga ribu rupiah bu…”
“Hah!? Yang benar saja?!
Mahal sekali?! Memang bahannya apa?! Coba saya lihat?!”
“Ya bu, silahkan.
Memang itu insyaallah adalah harga yang sebenarnya bu…”
“Pedagang mana yang mau
membuka untung yang dia peroleh! Tidak akan ada!”
“…”
“Saya beli lima bungkus
tapi saya hanya akan bayar setengah harga karena rasanya juga tidak enak.”
“Ya bu, silahkan tidak
apa – apa…”
“Nih uangnya! Mau nipu
orang tua! Sudah sana pergi!”
“Iya bu, terimakasih
ibu telah membeli nasi uduk saya, sekali lagi terimakasih bu…”
“Ya sudah – sudah.
Rumah saya sudah dibersihkan pembantu saya, jadi saya tidak mau nanti kotor
kembali. Cepat sana pergi!”
“Iya bu, permisi
assalamualaikum…”
Senja
yang gersang membawa bulan memudar di kaki langit, dan ombak yang menderu
memburu gelombang pantai, wajah usang berlabuh kasih di hati menggamit, tampak
rasa sayang mendekap kasih berbunga hati, dalam senja anginnya bisa berlagu,
‘kan kuceritakan uraian kisah yang menyatu, walau kini terlempar dalam
bayangan, dalam senja berpaut layar berkembang, demikian di dunia selagi
manusia ada, setiap kasih yang berbunga di ambang senja, pasti dimusnahkan
dengan cemoohan, tiada arti tangisan, karena ku yakin Allah ada bersamaku, ya
Allah… berilah hamba keikhlasan, kesabaran, ketawakalan, dalam melalui setiap
lembar ujian dariMu… Alhamdulillah, terimakasih atas rizki yang Engkau beri ini
ya Allah…
Syahdan meneruskan
langkahnya untuk menjual nasi uduknya. Uang hasil menjual nasi uduk yang dia
terima dari ibu tadi menjadi pemicu semangatnya untuk tak lelah berjualan. Ibu tadi
hanya membayar lima nasi uduk itu setengah dari harga yang seharusnya, itu
artinya hanya tujuh ribu lima ratus rupiah. Tapi, Syahdan tetap mensyukurinya,
karena ia yakin Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan selalu ada untuk
membantu hamba – hambaNya.
“Nasi uduk!!!... Nasi
uduk!!!... Nasi uduk!!!...”
“Nasi uduk lezat!!! …
Nasi uduk lezat!!!....”
“Ade, sini,,, ibu mau
beli nasi uduknya…”
“Iya bu…”
Alhamdulillah…
“Kamu pedagang baru ya
dek? Karena baru sekarang saya melihat kamu.”
“Iya bu,,, dulu saya
bekerja di pembangunan, akan tetapi ternyata di sana bukan rizki saya, dan
sekarang Allah menunjukkan jalan rizki lain pada saya yaitu dengan berjualan
nasi uduk.”
“Hmm… begitu ya. Kamu
anak rantau ya dek? Dari mana? Dengan siapa kamu tinggal sekarang?”
“Iya bu, saya dari
Padang. Saya tinggal sendiri di sini.”
“Hmmmm,,,, orang tua
mu?”
“Mereka tinggal di
Padang…”
“Kenapa kamu bisa ke
Bandung? Maaf saya tanya – tanya ya, hanya jujur saya kagum pada anak seperti
kamu.”
“Iya bu, tidak apa –
apa, justru saya senang ada orang yang mau perhatian untuk mengenal saya. Saya
ke Bandung karena Allah yang menuntun saya ke sini. Orang tua saya menyuruh
saya pergi dari rumah karena keinginan saya menjadi muallaf, karena orang tua
dan keluarga saya beragama katolik. Jika memang itu yang terbaik, maka saya
tidak ragu untuk pergi dengan keyakinan yang saya rasakan bahwa ini memang
jalan yang benar untuk saya pilih. Setelah itu, saya pergi ke Bandung dan
mendapatkan pekerjaan di pembangunan, menjadi pengangkut batu besar yang ada di
sungai. Namun, karena ada krisis keuangan perusahan, saya terkena PHK. Hingga
kemudian saya berjualan nasi uduk. Bagitulah ceritanya bu…”
“Subhanallah,,, kamu
memang anak yang baik dek. Insyaallah Allah akan membukakan jalan kemudahan
untukmu dek. Ibu yakin itu. Oh iya ibu beli 10 bungkus ya dek.”
“Oh iya bu
silahkan…Terimakasih bu…”
“Y sama – sama. Sabar
dan jangan pernah berhenti bersyukur ya dek.”
“Iya bu…”
Setelah seharian
Syahdan menjual nasi uduk, sebelum pulang ke rumah kotaknya, ia mampir dahulu
ke sebuah mesjid. Di sana ia mensedekahkan setengah dari hasil jualannya.
Kemudian baru ia kembali ke rumah kotaknya. Sungguh tiada disangka, di tengah
perjalanannya, di depan matanya kini ada kejadian yang membuat hatinya pilu.
Ibu yang tadi membayar nasi uduknya setengah harga, rumahnya terbakar, akibat
dari terjadinya gangguan arus listrik. Terlihat dia meronta – ronta, karena
semua harta bendanya hangus dilalap ganasnya si merah. Suami yang dicintainya
pun Allah ambil bersama kedua orang putranya. Kini, ia seorang diri, menatap
kelu serpihan – serpihan itu. Syahdan tak kuasa menyembunyikan kesedihannya.
Berlari segera ia menghampiri dan memeluk ibu itu. Tiada rasa dendam dalam
hatinya, justru cinta yang nyatanya tumbuh dalam benaknya. Cinta untuk seorang
ibu, sekalipun di masa detik yang lalu dia di lempar oleh perkataan yang tak
mengenakkan.
“Ibu, yang sabar ya,
jangan menangis, ikhlaskan segala ujian dari Allah ini, yakinlah bahwa dalam
setiap ujian ada dua jalan kebahagiaan menanti untuk kita jemput dengan iman
kita padaNya. Tiap ujian adalah ekstase untuk kita naik tingkat menjadi manusia
yang lebih baik di sisiNya, maka mari kita gapai mutiara dalam syukur yang
Allah tawarkan bu…”
“Ka…ka… ka….mu… kenapa
kamu ada di sini?! Kamu ingin menertawakan saya?! Iya kan?! Sekarang saya
miskin dan tak punya apa…”
“Tidak bu! Ibu masih
punya saya. Mulai sekarang ibu adalah ibu saya. Taukah ibu, bahwa tadi pagi ibu
telah mengajarkan saya untuk bekerja dengan niat yang ikhlas, tak mencari
untung di atas ketentuan syariat Islam, tapi bekerja untuk memberikan kebermanfaatan
bagi sesama. Saya tidak berniat demikian, saya menyayangi ibu layaknya ibu saya
sendiri. Percayalah… tinggalah bersama saya, dan terus menjadi alarm untuk
mengingatkan saya dari rasa benar atas diri saya. Ibu mau kan?”
“Maafkan ibu nak,,,, maafkan
ibu,,,,”
“Iya bu,,, tidak apa –
apa ,,, bagaimana ibu mau kan?”
“Insyaallah nak… ya
Allah,,, terimakasih Engkau telah mengirimkan anak soleh seperti dia untuk
mendidikku,,, terimakasih ya Allah…”
Akhirnya, ibu itu
tinggal bersama Syahdan, dan mereka pun pulang menuju rumah kotak Syahdan.
Terkejut, di depan
rumah kotaknya itu ternyata sudah terparkir mobil mewah. Mobil siapa? Hinggap
pertanyaan itu di hatinya. Lalu, dari mobil itu keluar sosok yang tak asing
baginya. Sosok yang tak mengenal lelah, yang tak berkeluh kesah, yang selalu
memberinya kasih, yang selalu memberi cinta. Ibunya. Kemudian menyusul sosok
lain yang muncul keluar dari mobil itu, ayahnya. Syahdan diam terpaku. Jinjing
yang dibawanya tak kuat lagi ia pegang hingga tak sadar ia lepaskan ke tanah.
Beriak di kedua matanya air yang tak pernah ia undang. Berlari, bersimpuh,
Syahdan menghampiri ibu dan bapaknya.
“Ibu!!! Bapak!!!...”
“Syahdan anakku…”
“Syahdan… maafkan bapak
nak,,,”
“Maafkan juga ibu
nak,,, ibu sudah menelantarkanmu,,, ibu tidak layak menjadi ibumu,,,”
“Tidak bu,,, pak,,,
Syahdanlah yang salah karena tidak memberi kabar pada ibu dan bapak. Syahdan
bukan anak yang baik bu, pak, maafkan Syahdan,,, maaf,,,”
“Tidak nak, bapak dan
ibu sekarang sudah paham, dan … Alhamdulillah kami sudah muslim,,, terimakasih
anakku, kau telah membantu kami menjemput hidayahNya…”
“Alhamdulillah,,, ibu
,,, bapak ,,, Syahdan sayang kalian,,, maafkan Syahdan,,,oh iya bu, pak, ini
adalah ibu Syahdan, selain ibu tentunya..”
“Iya nak, mari kita
tinggal bersama, ibu sudah tau ceritanya dari pak RT.”
“Syahdan, mulai
sekarang saya yang akan menjadi investor di usaha nasi udukmu, dan ibu bapakmu
akan tetap tinggal di rumah saya. Nanti setelah usahamu maju kamu bisa
membelikan rumah untuk mereka baru setelah itu saya ijinkan mereka tinggal
bersamamu. Mereka sudah tua jadi saya tidak mau mereka tidak terjaga dengan
baik.”
“Maksudnya apa pak? Bu?
Memang apa hubungan ibu dan bapak dengan ibu ini? Lalu bagaimana ibu dan bapak
bisa tau Syahdan tinggal di sini?”
“Ibu dan bapak datang
ke Bandung untuk mencarimu nak, namun, ada yang menabrak bapakmu. Lalu ibu
inilah yang menolong kami, yang merawat kami di rumahnya, dan ketika kamu
berjualan nasi uduk ibu melihatmu dari dalam rumah. Setelah itu ibu ceritakan
semuanya pada ibu ini dan akhirnya kami bisa menemukanmu nak.”
“Ibu termakasih, ibu
telah merawat dan menjaga ibu dan bapak saya. Sungguh saya tidak tau bagaimana
caranya saya membalas semua kebaikan ibu. Terimakasih…”
“Tidak apa, kamu cukup
menjalankan usahamu dengan sungguh – sungguh dan percayakan pada saya untuk
terus menjaga dan merawat ibu dan bapakmu, sampai kamu benar – benar siap, agar
tidak juga mengganggu konsentrasimu menjalankan usahamu. Kamu bisa mengunjungi
mereka sesuka hatimu. Oke. Oh ya, bulan depan kita semua akan berhaji, kamu
siapkan diri kamu ya.”
“Ibu terimakasih…”
Subhanallah
,,, Ya Allah terimakasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan pada kami
,,,
Itulah kekuatan cinta
yang bernyawa, tulus atas namaNya. Ia akan membawa kita pada rasa syukur untuk
sebuah hadiah terindah yang telah menanti dariNya, karena di jalan cintaNya
terdapat mutiara dalam syukur. Lalu cinta adalah kata kerja, yang menjadikan
hati sebagai makmum bagi kerja – kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalih.
Mata airnya adalah niat baik dari hati yang tulus, alirannya adalah kerja yang
terus menerus. Subhanallah, Maha Suci Allah.,.
Hari – hari selanjutnya
Syahdan jalani dengan penuh cinta bersama keluarga barunya, dan tentunya dengan
kedua orang tuanya pula. Tak henti – hentinya ucap syukur selalu ia panjatkan atas
segala nikmat yang telah di Allah swt padanya dan keluarganya. Kini, senyum itu
benar bergetar dari hatinya. Tak seperti dahulu, tak seperti masa itu. Masa –
masa jauh dari dua pahlawan dalam hidupnya, ayah dan ibunya.
Di
sini, dalam liku kehidupan, telah kutempuh gelombang lautan, sekelumit tanda
tanya ada dalam kesunyian, masih banyakkah kesempatan, Ya Illahi,,, Kau usap
dada lukaku penuh kasih, Kau bangkitkan diriku agar tegar dan sabar, bahwa
bakal ada penyembuh bagi suatu penyakit, WASYIFAAUN LIMAA FISHSHUDUUR, pada
bintang – bintang yang bertebaran di lazuardi, kukatakan sesuatu dalam hati,
selama denyut nadi berbunyi, kupanjatkan do’a di siang dan malam hari, atas
kasihNya , Ya Illahi, Rabbi,,,
“Ibu, sarapan hari
terasa nikmat,,,”
“Kan memang setiap hari
juga begitu,,,”
“Syahdan, berangkat
kerja dulu ya bu, bapak dimana ? Syahdan mau pamit.”
“Loh? Tidakkah besok
saja? Sekarang biarlah kau libur nak, ibu pun pasti mengerti.”
“Tidak bu, ini
kewajiban Syahdan, salam untuk bapak ya bu, Syahdan pamit berangkat.”
“Hati – hati ya nak.
Jika sudah selesai lekas pulang.”
“Ya, bu, insya Allah.”
Sesampainya di tempat
kerja, Syahdan pingsan dan tak sadarkan diri lagi. Ternyata, dia telah
mendonorkan kedua ginjalnya untuk kakaknya di desa, yang kini masih dalam
penyembuhan. Kakak yang dahulu menghasut ibu bapaknya untuk mengusir dia. Karena
hanya ginjal Syahdan yang ternyata cocok maka, ia tak ragu demi cintanya pada
kakak yang dahulu sering membelanya saat ia dijahati teman – teman kecilnya. Syahdan
pun pamit untuk pergi selamanya, membawa iman padaNya dan cinta dari orang –
orang yang dicintainya.
Aku lelap dalam cintaku padaMu…
Aku lelap dalam cintaku padaMu…
My Quote
Pilih dan jalani hal yang
membuatmu bahagia, juga yang mau serta mampu menerimamu dengan tulus apa
adanya, sehingga dirimu pun dapat menerimanya dengan cara serupa, tak
membuatmu menjadi orang lain walau dengan dirimu yang sedang dan telah
(pada beberapa hal) berusaha menjadi yang lebih baik dari diri yang
sebelumnya, sebab jika terus dirimu memaksakan kapasitas optimum atas
potensi dan kemampuan diri, boleh jadi akan rusak atau bahkan sakit,
karena ada batas kemanusiawian dari upaya yang direncanakan dan
dilaksanakan, yang mengajarkan pada kita bahwa itulah khas dari
kehidupan, jika ada istilah 1 : 1000 untuk satu hal yang paling
berharga, maka itulah jawaban atas adanya anugerah dirimu padaku
dari-Nya,
Tentangku
Terhitung
sejak SD atau Sekolah Dasar, di SDN Cipelang, Ujungjaya, Kabupaten
Sumedang, ia sudah menjadi juara kelas di setiap tahunnya. Ikut kegiatan
kepramukaan dan menjadi delegasi Senam SD Kabupaten, Tim Pramuka dengan
meraih juara 2, dan ternyata ia juga memiliki bakat di bidang musik
dengan bukti pencapaiannya menajdi Juara Pupuh Solo Lagu Nasional.
Selain itu, ia juga pernah beberapa kali meraih juara untuk kegiatan
Tilawah Al – Qur’an atau yang sering disebut MTQ. Masuk SMP, ia
bersekolah di salah satu SMP Favorit dan Terbaik di Kabupatennya, yakni
SMPN 1 Conggeang, Kabupaten Sumedang. Saat semasa SMP memang tidak
terlalu banyak kegiatan yang diikutinya karena masa transisi yang belum
bisa dihadapinya, tidak seperti ketika SD. Namun, prestasinya tetap
bergeming, seperti prestasi akademik dan seni musik yang pernah
diraihnya. Masuk deretan anak yang berprestasi akademik di sekolahnya
untuk kemudian menjadi nominasi Olimpiade SAINS Nasional dari
KEMENDIKNAS. Di seni musik, hobinya yang lain dalam bermain alat musik
menjadikannya Tim Gamelan Upacara Adat Sunda dan ia memegang Saron 1
untuk bagiannya di Tim itu. Dan ia juga merupakan perwakilan kelas di
MPK OSIS SMPN 1 Conggeang tahun 2007. Menginjak bangku SMA-lah
prestasinya menjadi lebih terbuktikan. Sejak kelas 1 sampai kelas 3 ia
selalu berhasil meraih nilai akademik luar biasa dan menjadi juara kelas
di kelasnya. Pilihannya masuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam,
mengantarkannya pada persaingan akademik yang cukup ketat. Jika saat
kelas 1 anak terbaik akademiknya masih terpecah di beberapa kelas, tapi
ketika kelas 2 dan kelas 3 mereka terpusat di satu kelas, yakni kelas
jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Tapi itu semua tidak membuat
semangat dan prestasinya turun, karena tetap ia bisa meraih prestasi
akademik yang memuaskan. Hal itu terbukti dengan dinobatkannya ia
menjadi siswa Juara Umum yang juga berhasil masuk Universitas dengan
mendapatkan Beasiswa Akademik dari DIKTI untuk jangka waktu 4 tahun
perkuliahan. Tahun 2009-2010 ia juga berhasil menduduki jabatan
tertinggi di organisasi sekolahnya, yakni menjadi Ketua OSIS SMAN Tomo
Kabupaten Sumedang untuk periode 2009-2010.
Kesibukan akademik dan
organisasi tidak membuat penanya berhenti, pada tahun 2009 salah
satu puisinya masuk ke LPMP MENDIKNAS Jawa Barat, di kolom puisi karya
pelajar Jawa Barat. Sejak saat itu, sampai sekarang di bangku kuliah ia
konsen di bidang penulisan, khususnya Sastra. Terpilihnya ia menjadi
Gadis Belia Koran Pikiran Rakyat tahun 2010 pun semakin membuatnya lebih
dikenal masyarakat. Di bangku kuliah, pada awal semester ia meraih
Juara Cerpen Islami Terbaik di kampusnya, serta pada tahun 2013 menjadi
tokoh inspiratif untuk salah satu Koran ibu kota. Sudah banyak tulisan –
tulisannya baik itu Sastra ataupun ilmiah yang dimuat di beberapa media
cetak dan elektronik, seperti Belia, Opini UPI, Bandung Ekspress,
Kompas, Mizan, Lingkar Pena dan Mitra Muda.
Semua bakat seni dan menulis yang ada dalam
dirinya diturunkan dari keluarga besarnya, khususnya dari ibunya yang
juga seorang penulis puisi dan sajak Sunda dan dari kakeknya yang
memiliki kemampuan bermusik tradisional yang luar biasa. Sekarang (2013) ia
tengah menempuh studi semester 5 di Jurusan Pendidikan Kesejahteraan
Keluarga, Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Universitas
Pendidikan Indonesia Bandung. Dengan IPK Cumlaude yang masih bertahan
sampai semester 5 ini, ia juga tetap mengembangkan aktivitas
organisasinya di dalam dan luar kampus. Mulai dari organisasi jurusan,
universitas dan internasional. Saat ini selain dari agenda kuliah dan
menulis, ia sedang menjabat di Badan Eksekutif Mahasiswa Republik
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, sebagai Advokat di
DIRJEN Advokasi. Ia juga member tetap di IFHE Bonn Germany, atau
organisasi PKK Internasional yang berpusat di Bonn, Jerman.
Langganan:
Komentar (Atom)



































