Jadwal Kuliah Semester 5



Jadwal Kuliah Semester 5 Prodi PKK FPTK UPI Angkatan 2011

Senin :
Pelayanan Anak dan Lansia
Media Pembelajaran PKK
Tata Hidang + Makanan Oriental Kontinental

Selasa
Metode Penelitian PKK
Rancang Bangun Alat Permainan Edukatif

Jumat
Pendidikan Lingkungan, Sosial, Budaya dan Teknologi

Read more

Mutiara Dalam Syukur


 

Mutiara Dalam Syukur
Manusia adalah hamba yang tak mengenal lelah. Hamba yang tak henti juangnya mendaki puncak gunung mimpi bertanggalnya. Mimpi yang membuat asanya menembus jauh melampaui batas – batas dimensi ruang dan waktu. Menerka nyata kisah di masa depan, yang mereka gambar dalam lukisan indah cita perspektif jangka panjang. Tak jauh pula dengan Syahdan, anak sebatang kara yang jauh di alam sejarah hidupnya ia berjihad menegakkan agama Allah dalam keyakinan hatinya. Tak peduli meski ia harus dibuang oleh keluarga besarnya, karena kini dalam hatinya telah terbuka lubang cahaya cintaNya untuk menjadi petunjuk hidupnya. Tak sedikitpun ia ragu. Tak jua takut. Bahkan tak ada tangis penyesalan yang membasahi kedua mata bermaniknya. Dalam ruhnya kini tersimpan kekuatan kasihNya. Dalam darahnya mengalir air surga yang menyegarkan dahaga insannya. Bersimbah keringat dan tangis bukan hal baru lagi baginya. Nafasnya tak lepas dari udara – udara penuh semangat untuknya meraih cita – citanya. Seperti yang sekarang tengah ia kerjakan. Mengangkat satu persatu batu besar untuk dipindahkan ke bak truk besar. Jika orang menyumpal senyum mereka, namun Syahdan sebaliknya. Senyum indahnya merekah menyirai sukma – sukma yang lelah, memberi ruh baru pada jiwa yang sempat lengang, untuk terus berjuang walau raga serasa dibalik – balikan, untuk cita atas namaNya.
“Syah, kamu dipanggil bos! Katanya ada hal yang ingin dia bicarakan. Cepat kesana!”
“Oh iya bang, saya kesana. Terimakasih atas informasinya.”
“Yayaya. Cepat sana!”
Ada hal apa sehingga bos memanggilku? Mungkinkah ada salah dalam kerjaku selama ini?
Bermunculan pertanyaan dalam pikir dan benaknya. Syahdan telah bekerja selama satu tahun di tempat kini ia bekerja. Menjadi seorang buruh pengangkat batu besar yang ada di sekitar sungai untuk kemudian dipindahkan ke truk. Pekerjaan itu ia lakoni sejak ia tak tinggal lagi di rumah dengan kedua orang tuanya, karena pilihannya untuk menjadi seorang muallaf, menjadi muslim. Sempat ia hilang arah, tak tahu harus kemana, dan dengan siapa, karena semua keluarganya beragama Katolik, dan kini hanya ia atau tepatnya barulah ia yang dapat menjemput hidayahNya. Berhari – hari, berminggu – minggu, bahkan nyatanya sempat pula berbulan – bulan ia menjadi warga urban harian. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Menyisir hiruk pikuk kota yang tak bersahabat. Sampai akhirnya ia mendapat pekerjaan yang sekarang ia jalani, yakni sebagai buruh pengangkat batu besar. Ia yakin tak akan ditemui jalan layang menuju puncak gunung kesuksesan.
Setibanya ia di depan ruang kerja bosnya itu, Syahdan langsung mengetuk pintu untuk ijin memasuki ruangan.
“Permisi pak…”
 “Oh, kamu. Ya silahkan masuk. Silahkan duduk.”
“Oh ya pak terimakasih.”
“Hmm… mungkin kita langsung saja karena saya yakin pasti kamu sudah bertanya – tanya kenapa kamu saya panggil.”
“Iya pak, silahkan.”
“Perusahaan kita sekarang sedang banyak mengalami permasalahan keuangan, yang tentunya ini juga berdampak pada kalian sebagai pegawai. Saya akui pekerjaan kamu selama ini memang bagus. Kamu rajin dan bertanggungjawab atas pekerjaan kamu, tapi… dengan berat hati saya tidak bisa mempekerjakan kamu lagi. Hal ini saya lakukan untuk menekan pengeluaran keuangan perusahaan, karena pemasukan kita sekarang sedang bermasalah. Jadi mulai besok kamu tidak perlu datang lagi ke lokasi. Saya mohon maaf.”
“Oh… ya pak tidak apa – apa…”
“Hmm. Sekarang kamu boleh keluar.”
Sesaat tubuhnya lunglai. Aliran darahnya sempat membeku. Nafasnya tertahan oleh perasaan dalam hatinya. Namun kemudian, ia sadar. Berulang kali ia menyebut kalimat – kalimat cintaNya. Tak banyak memang yang ia ingat, tapi setidaknya ia kembali merasakan ketenangan jauh dalam hatinya.
            Hari ini adalah hari yang membawanya kembali menjadi insan yang kuat dalam melewati setiap kasih dariNya. Apa yang dia alami siang tadi ia yakini bahwa itu semua adalah pesan – pesan kesuksesan dariNya. Lalu kini, ia bersimpuh dalam keheningan malam yang panjang.
            Hari ini ada warna punya rasa dan punya nada, pada segumpal kehidupan manusia yang tersisa, badan ini kini telah menjadi pelabuhan nasib, dalam menempuh usia melayarkan cita – cita, lukisan hati, lukisan diri, lukisan insani, terpampang pada warna merah jingga, lalu ada kedamaian yang terpateri, “pasrah dalam do’a”, kupanjatkan atas rahmatNya serta kasihNya, bersama keyakinan Dialah yang akan menolong, dan, pabila malam sepi kembali, dalam alunan lagu akhir simfoni dzikir, aku masih harus berharap dan berfikir, semoga tak lagi mereguk cawan derita, dan angin pun datang menyapu langit kelam menjadi biru, bagai lingkaran lukisan yang menyatu, mengalirkan kesejukan dalam melangkahkan, perjalanan, dengan getaran di batinku, Bismillaahirrahmaanirrahiim…
            Terlelap Syahdan dalam mesra bincangnya dengan Sang Khalik, dan hari esok telah rindu menantinya untuk ia jamah kembali.
            Pagi yang baru bagi Syahdan. Syahdan berbenah diri untuk berjuang kembali meraih cita atas namaNya. Kini ia tak lagi terpikir untuk mencari pekerjaan, tapi ia ingin menciptakan pekerjaan untuknya dan untuk membantu orang lain. Dari uang tabungan yang ia miliki, ia berdayakan menjadi modal usaha yang ingin ia bangun. Usaha nasi uduk, itulah yang sekarang menjadi fokusnya. Keahliannya dalam memasak ia gunakan untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Tak lagi ia ingin hidup bergantung pada orang lain, kecuali hanya pada Allah SWT semata.
            Di ruang sempit tempat ia rehat, yang juga sebenarnya itu adalah ruang serbagunanya sekarang, karena memiliki fungsi lain yakni sebagai ruang memasak atau dapur , ia mulai meracik bumbu dan memasak nasi uduk untuk kemudian ia jual pada pembeli. Memang dia pun aneh akan seperti apa rasanya nasi uduk buatan seorang laki – laki, tapi ia yakin Allah akan membantunya. Setelah selesai ia memasak, Syahdan langsung bersiap – siap untuk berkeliling menawarkan, menjual nasi uduk karyanya itu. Sebelum ia berangkat melakoni profesi barunya, terlebih dahulu ia meminta ijin pada Yang Maha Kuasa.
Ya Allah,,,
Ridhoilah langkah hambaMu ini untuk berjuang di jalan cintaMu…
aminnn….
            “Nasi uduk!!!... Nasi uduk!!!... Nasi uduk!!!...”
“Eh dek! Sini saya mau beli!”
“Oh iya bu,,, saya ke sana…”
Alhamdulillah  ya Allah… akhirnya ada yang mau membeli juga….syukurnya dalam hati.
“Berapa harganya?”
“Tiga ribu rupiah bu…”
“Hah!? Yang benar saja?! Mahal sekali?! Memang bahannya apa?! Coba saya lihat?!”
“Ya bu, silahkan. Memang itu insyaallah adalah harga yang sebenarnya bu…”
“Pedagang mana yang mau membuka untung yang dia peroleh! Tidak akan ada!”
“…”
“Saya beli lima bungkus tapi saya hanya akan bayar setengah harga karena rasanya juga tidak enak.”
“Ya bu, silahkan tidak apa – apa…”
“Nih uangnya! Mau nipu orang tua! Sudah sana pergi!”
“Iya bu, terimakasih ibu telah membeli nasi uduk saya, sekali lagi terimakasih bu…”
“Ya sudah – sudah. Rumah saya sudah dibersihkan pembantu saya, jadi saya tidak mau nanti kotor kembali. Cepat sana pergi!”
“Iya bu, permisi assalamualaikum…”
Senja yang gersang membawa bulan memudar di kaki langit, dan ombak yang menderu memburu gelombang pantai, wajah usang berlabuh kasih di hati menggamit, tampak rasa sayang mendekap kasih berbunga hati, dalam senja anginnya bisa berlagu, ‘kan kuceritakan uraian kisah yang menyatu, walau kini terlempar dalam bayangan, dalam senja berpaut layar berkembang, demikian di dunia selagi manusia ada, setiap kasih yang berbunga di ambang senja, pasti dimusnahkan dengan cemoohan, tiada arti tangisan, karena ku yakin Allah ada bersamaku, ya Allah… berilah hamba keikhlasan, kesabaran, ketawakalan, dalam melalui setiap lembar ujian dariMu… Alhamdulillah, terimakasih atas rizki yang Engkau beri ini ya Allah…
Syahdan meneruskan langkahnya untuk menjual nasi uduknya. Uang hasil menjual nasi uduk yang dia terima dari ibu tadi menjadi pemicu semangatnya untuk tak lelah berjualan. Ibu tadi hanya membayar lima nasi uduk itu setengah dari harga yang seharusnya, itu artinya hanya tujuh ribu lima ratus rupiah. Tapi, Syahdan tetap mensyukurinya, karena ia yakin Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan selalu ada untuk membantu hamba – hambaNya.
“Nasi uduk!!!... Nasi uduk!!!... Nasi uduk!!!...”
“Nasi uduk lezat!!! … Nasi uduk lezat!!!....”
“Ade, sini,,, ibu mau beli nasi uduknya…”
“Iya bu…”
Alhamdulillah…
“Kamu pedagang baru ya dek? Karena baru sekarang saya melihat kamu.”
“Iya bu,,, dulu saya bekerja di pembangunan, akan tetapi ternyata di sana bukan rizki saya, dan sekarang Allah menunjukkan jalan rizki lain pada saya yaitu dengan berjualan nasi uduk.”
“Hmm… begitu ya. Kamu anak rantau ya dek? Dari mana? Dengan siapa kamu tinggal sekarang?”
“Iya bu, saya dari Padang. Saya tinggal sendiri di sini.”
“Hmmmm,,,, orang tua mu?”
“Mereka tinggal di Padang…”
“Kenapa kamu bisa ke Bandung? Maaf saya tanya – tanya ya, hanya jujur saya kagum pada anak seperti kamu.”
“Iya bu, tidak apa – apa, justru saya senang ada orang yang mau perhatian untuk mengenal saya. Saya ke Bandung karena Allah yang menuntun saya ke sini. Orang tua saya menyuruh saya pergi dari rumah karena keinginan saya menjadi muallaf, karena orang tua dan keluarga saya beragama katolik. Jika memang itu yang terbaik, maka saya tidak ragu untuk pergi dengan keyakinan yang saya rasakan bahwa ini memang jalan yang benar untuk saya pilih. Setelah itu, saya pergi ke Bandung dan mendapatkan pekerjaan di pembangunan, menjadi pengangkut batu besar yang ada di sungai. Namun, karena ada krisis keuangan perusahan, saya terkena PHK. Hingga kemudian saya berjualan nasi uduk. Bagitulah ceritanya bu…”
“Subhanallah,,, kamu memang anak yang baik dek. Insyaallah Allah akan membukakan jalan kemudahan untukmu dek. Ibu yakin itu. Oh iya ibu beli 10 bungkus ya dek.”
“Oh iya bu silahkan…Terimakasih bu…”
“Y sama – sama. Sabar dan jangan pernah berhenti bersyukur ya dek.”
“Iya bu…”
Setelah seharian Syahdan menjual nasi uduk, sebelum pulang ke rumah kotaknya, ia mampir dahulu ke sebuah mesjid. Di sana ia mensedekahkan setengah dari hasil jualannya. Kemudian baru ia kembali ke rumah kotaknya. Sungguh tiada disangka, di tengah perjalanannya, di depan matanya kini ada kejadian yang membuat hatinya pilu. Ibu yang tadi membayar nasi uduknya setengah harga, rumahnya terbakar, akibat dari terjadinya gangguan arus listrik. Terlihat dia meronta – ronta, karena semua harta bendanya hangus dilalap ganasnya si merah. Suami yang dicintainya pun Allah ambil bersama kedua orang putranya. Kini, ia seorang diri, menatap kelu serpihan – serpihan itu. Syahdan tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. Berlari segera ia menghampiri dan memeluk ibu itu. Tiada rasa dendam dalam hatinya, justru cinta yang nyatanya tumbuh dalam benaknya. Cinta untuk seorang ibu, sekalipun di masa detik yang lalu dia di lempar oleh perkataan yang tak mengenakkan.
“Ibu, yang sabar ya, jangan menangis, ikhlaskan segala ujian dari Allah ini, yakinlah bahwa dalam setiap ujian ada dua jalan kebahagiaan menanti untuk kita jemput dengan iman kita padaNya. Tiap ujian adalah ekstase untuk kita naik tingkat menjadi manusia yang lebih baik di sisiNya, maka mari kita gapai mutiara dalam syukur yang Allah tawarkan bu…”
“Ka…ka… ka….mu… kenapa kamu ada di sini?! Kamu ingin menertawakan saya?! Iya kan?! Sekarang saya miskin dan tak punya apa…”
“Tidak bu! Ibu masih punya saya. Mulai sekarang ibu adalah ibu saya. Taukah ibu, bahwa tadi pagi ibu telah mengajarkan saya untuk bekerja dengan niat yang ikhlas, tak mencari untung di atas ketentuan syariat Islam, tapi bekerja untuk memberikan kebermanfaatan bagi sesama. Saya tidak berniat demikian, saya menyayangi ibu layaknya ibu saya sendiri. Percayalah… tinggalah bersama saya, dan terus menjadi alarm untuk mengingatkan saya dari rasa benar atas diri saya. Ibu mau kan?”
“Maafkan ibu nak,,,, maafkan ibu,,,,”
“Iya bu,,, tidak apa – apa ,,, bagaimana ibu mau kan?”
“Insyaallah nak… ya Allah,,, terimakasih Engkau telah mengirimkan anak soleh seperti dia untuk mendidikku,,, terimakasih ya Allah…”
Akhirnya, ibu itu tinggal bersama Syahdan, dan mereka pun pulang menuju rumah kotak Syahdan.
Terkejut, di depan rumah kotaknya itu ternyata sudah terparkir mobil mewah. Mobil siapa? Hinggap pertanyaan itu di hatinya. Lalu, dari mobil itu keluar sosok yang tak asing baginya. Sosok yang tak mengenal lelah, yang tak berkeluh kesah, yang selalu memberinya kasih, yang selalu memberi cinta. Ibunya. Kemudian menyusul sosok lain yang muncul keluar dari mobil itu, ayahnya. Syahdan diam terpaku. Jinjing yang dibawanya tak kuat lagi ia pegang hingga tak sadar ia lepaskan ke tanah. Beriak di kedua matanya air yang tak pernah ia undang. Berlari, bersimpuh, Syahdan menghampiri ibu dan bapaknya.
“Ibu!!! Bapak!!!...”
“Syahdan anakku…”
“Syahdan… maafkan bapak nak,,,”
“Maafkan juga ibu nak,,, ibu sudah menelantarkanmu,,, ibu tidak layak menjadi ibumu,,,”
“Tidak bu,,, pak,,, Syahdanlah yang salah karena tidak memberi kabar pada ibu dan bapak. Syahdan bukan anak yang baik bu, pak, maafkan Syahdan,,, maaf,,,”
“Tidak nak, bapak dan ibu sekarang sudah paham, dan … Alhamdulillah kami sudah muslim,,, terimakasih anakku, kau telah membantu kami menjemput hidayahNya…”
“Alhamdulillah,,, ibu ,,, bapak ,,, Syahdan sayang kalian,,, maafkan Syahdan,,,oh iya bu, pak, ini adalah ibu Syahdan, selain ibu tentunya..”
“Iya nak, mari kita tinggal bersama, ibu sudah tau ceritanya dari pak RT.”
“Syahdan, mulai sekarang saya yang akan menjadi investor di usaha nasi udukmu, dan ibu bapakmu akan tetap tinggal di rumah saya. Nanti setelah usahamu maju kamu bisa membelikan rumah untuk mereka baru setelah itu saya ijinkan mereka tinggal bersamamu. Mereka sudah tua jadi saya tidak mau mereka tidak terjaga dengan baik.”
“Maksudnya apa pak? Bu? Memang apa hubungan ibu dan bapak dengan ibu ini? Lalu bagaimana ibu dan bapak bisa tau Syahdan tinggal di sini?”
“Ibu dan bapak datang ke Bandung untuk mencarimu nak, namun, ada yang menabrak bapakmu. Lalu ibu inilah yang menolong kami, yang merawat kami di rumahnya, dan ketika kamu berjualan nasi uduk ibu melihatmu dari dalam rumah. Setelah itu ibu ceritakan semuanya pada ibu ini dan akhirnya kami bisa menemukanmu nak.”
“Ibu termakasih, ibu telah merawat dan menjaga ibu dan bapak saya. Sungguh saya tidak tau bagaimana caranya saya membalas semua kebaikan ibu. Terimakasih…”
“Tidak apa, kamu cukup menjalankan usahamu dengan sungguh – sungguh dan percayakan pada saya untuk terus menjaga dan merawat ibu dan bapakmu, sampai kamu benar – benar siap, agar tidak juga mengganggu konsentrasimu menjalankan usahamu. Kamu bisa mengunjungi mereka sesuka hatimu. Oke. Oh ya, bulan depan kita semua akan berhaji, kamu siapkan diri kamu ya.”
“Ibu terimakasih…”
Subhanallah ,,, Ya Allah terimakasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan pada kami ,,,
Itulah kekuatan cinta yang bernyawa, tulus atas namaNya. Ia akan membawa kita pada rasa syukur untuk sebuah hadiah terindah yang telah menanti dariNya, karena di jalan cintaNya terdapat mutiara dalam syukur. Lalu cinta adalah kata kerja, yang menjadikan hati sebagai makmum bagi kerja – kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalih. Mata airnya adalah niat baik dari hati yang tulus, alirannya adalah kerja yang terus menerus. Subhanallah, Maha Suci Allah.,.
Hari – hari selanjutnya Syahdan jalani dengan penuh cinta bersama keluarga barunya, dan tentunya dengan kedua orang tuanya pula. Tak henti – hentinya ucap syukur selalu ia panjatkan atas segala nikmat yang telah di Allah swt padanya dan keluarganya. Kini, senyum itu benar bergetar dari hatinya. Tak seperti dahulu, tak seperti masa itu. Masa – masa jauh dari dua pahlawan dalam hidupnya, ayah dan ibunya.
Di sini, dalam liku kehidupan, telah kutempuh gelombang lautan, sekelumit tanda tanya ada dalam kesunyian, masih banyakkah kesempatan, Ya Illahi,,, Kau usap dada lukaku penuh kasih, Kau bangkitkan diriku agar tegar dan sabar, bahwa bakal ada penyembuh bagi suatu penyakit, WASYIFAAUN LIMAA FISHSHUDUUR, pada bintang – bintang yang bertebaran di lazuardi, kukatakan sesuatu dalam hati, selama denyut nadi berbunyi, kupanjatkan do’a di siang dan malam hari, atas kasihNya , Ya Illahi, Rabbi,,,
“Ibu, sarapan hari terasa nikmat,,,”
“Kan memang setiap hari juga begitu,,,”
“Syahdan, berangkat kerja dulu ya bu, bapak dimana ? Syahdan mau pamit.”
“Loh? Tidakkah besok saja? Sekarang biarlah kau libur nak, ibu pun pasti mengerti.”
“Tidak bu, ini kewajiban Syahdan, salam untuk bapak ya bu, Syahdan pamit berangkat.”
“Hati – hati ya nak. Jika sudah selesai lekas pulang.”
“Ya, bu, insya Allah.”
Sesampainya di tempat kerja, Syahdan pingsan dan tak sadarkan diri lagi. Ternyata, dia telah mendonorkan kedua ginjalnya untuk kakaknya di desa, yang kini masih dalam penyembuhan. Kakak yang dahulu menghasut ibu bapaknya untuk mengusir dia. Karena hanya ginjal Syahdan yang ternyata cocok maka, ia tak ragu demi cintanya pada kakak yang dahulu sering membelanya saat ia dijahati teman – teman kecilnya. Syahdan pun pamit untuk pergi selamanya, membawa iman padaNya dan cinta dari orang – orang yang dicintainya.
            Aku lelap dalam cintaku padaMu…




Read more

Karya

Read more

Mozaic 1

Read more

Galeri

Belum ada konten.
Read more

Agenda

Belum ada konten.
Read more

My Quote

Pilih dan jalani hal yang membuatmu bahagia, juga yang mau serta mampu menerimamu dengan tulus apa adanya, sehingga dirimu pun dapat menerimanya dengan cara serupa, tak membuatmu menjadi orang lain walau dengan dirimu yang sedang dan telah (pada beberapa hal) berusaha menjadi yang lebih baik dari diri yang sebelumnya, sebab jika terus dirimu memaksakan kapasitas optimum atas potensi dan kemampuan diri, boleh jadi akan rusak atau bahkan sakit, karena ada batas kemanusiawian dari upaya yang direncanakan dan dilaksanakan, yang mengajarkan pada kita bahwa itulah khas dari kehidupan, jika ada istilah 1 : 1000 untuk satu hal yang paling berharga, maka itulah jawaban atas adanya anugerah dirimu padaku dari-Nya,
Read more

Tentangku

Mutiara (Neneng Mutiara Maulida) adalah gadis asal Sumedang, Jawa Barat yang kini sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Sejak sekolah dasar, gadis kelahiran Sumedang, 13 September 1992 ini sudah menyukai dunia tulis, yang ketika itu masih di ranah puisi. Kesukaannya itu mewujud menjadi prestasi – prestasi yang pernah diraihnya, seperti Juara Baca Tulis Puisi yang beberapa kali diraihnya pada beberapa acara berbeda, mulai dari acara di Desa, Kecamatan sampai Kabupaten dan Provinsi. Selain berprestasi di bidang sastra atau puisi, gadis yang kerap disapa Neng ini juga memiliki prestasi akademik dan organisasi yang sangat mengesankan.

Terhitung sejak SD atau Sekolah Dasar, di SDN Cipelang, Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, ia sudah menjadi juara kelas di setiap tahunnya. Ikut kegiatan kepramukaan dan menjadi delegasi Senam SD Kabupaten, Tim Pramuka dengan meraih juara 2, dan ternyata ia juga memiliki bakat di bidang musik dengan bukti pencapaiannya menajdi Juara Pupuh Solo Lagu Nasional. Selain itu, ia juga pernah beberapa kali meraih juara untuk kegiatan Tilawah Al – Qur’an atau yang sering disebut MTQ. Masuk SMP, ia bersekolah di salah satu SMP Favorit dan Terbaik di Kabupatennya, yakni SMPN 1 Conggeang, Kabupaten Sumedang. Saat semasa SMP memang tidak terlalu banyak kegiatan yang diikutinya karena masa transisi yang belum bisa dihadapinya, tidak seperti ketika SD. Namun, prestasinya tetap bergeming, seperti prestasi akademik dan seni musik yang pernah diraihnya. Masuk deretan anak yang berprestasi akademik di sekolahnya untuk kemudian menjadi nominasi Olimpiade SAINS Nasional dari KEMENDIKNAS. Di seni musik, hobinya yang lain dalam bermain alat musik menjadikannya Tim Gamelan Upacara Adat Sunda dan ia memegang Saron 1 untuk bagiannya di Tim itu. Dan ia juga merupakan perwakilan kelas di MPK OSIS SMPN 1 Conggeang tahun 2007. Menginjak bangku SMA-lah prestasinya menjadi lebih terbuktikan. Sejak kelas 1 sampai kelas 3 ia selalu berhasil meraih nilai akademik luar biasa dan menjadi juara kelas di kelasnya. Pilihannya masuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, mengantarkannya pada persaingan akademik yang cukup ketat. Jika saat kelas 1 anak terbaik akademiknya masih terpecah di beberapa kelas, tapi ketika kelas 2 dan kelas 3 mereka terpusat di satu kelas, yakni kelas jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Tapi itu semua tidak membuat semangat dan prestasinya turun, karena tetap ia bisa meraih prestasi akademik yang memuaskan. Hal itu terbukti dengan dinobatkannya ia menjadi siswa Juara Umum yang juga berhasil masuk Universitas dengan mendapatkan Beasiswa Akademik dari DIKTI untuk jangka waktu 4 tahun perkuliahan. Tahun 2009-2010 ia juga berhasil menduduki jabatan tertinggi di organisasi sekolahnya, yakni menjadi Ketua OSIS SMAN Tomo Kabupaten Sumedang untuk periode 2009-2010.

Kesibukan akademik dan organisasi tidak membuat penanya berhenti, pada tahun 2009 salah satu puisinya masuk ke LPMP MENDIKNAS Jawa Barat, di kolom puisi karya pelajar Jawa Barat. Sejak saat itu, sampai sekarang di bangku kuliah ia konsen di bidang penulisan, khususnya Sastra. Terpilihnya ia menjadi Gadis Belia Koran Pikiran Rakyat tahun 2010 pun semakin membuatnya lebih dikenal masyarakat. Di bangku kuliah, pada awal semester ia meraih Juara Cerpen Islami Terbaik di kampusnya, serta pada tahun 2013 menjadi tokoh inspiratif untuk salah satu Koran ibu kota. Sudah banyak tulisan – tulisannya baik itu Sastra ataupun ilmiah yang dimuat di beberapa media cetak dan elektronik, seperti Belia, Opini UPI, Bandung Ekspress, Kompas, Mizan, Lingkar Pena dan Mitra Muda.

Semua bakat seni dan menulis yang ada dalam dirinya diturunkan dari keluarga besarnya, khususnya dari ibunya yang juga seorang penulis puisi dan sajak Sunda dan dari kakeknya yang memiliki kemampuan bermusik tradisional yang luar biasa. Sekarang (2013) ia tengah menempuh studi semester 5 di Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Dengan IPK Cumlaude yang masih bertahan sampai semester 5 ini, ia juga tetap mengembangkan aktivitas organisasinya di dalam dan luar kampus. Mulai dari organisasi jurusan, universitas dan internasional. Saat ini selain dari agenda kuliah dan menulis, ia sedang menjabat di Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, sebagai Advokat di DIRJEN Advokasi. Ia juga member tetap di IFHE Bonn Germany, atau organisasi PKK Internasional yang berpusat di Bonn, Jerman.
Read more

Sitemap


Read more
 
Spinning Blue Star With Falling Stars